Kamis, 15 Mei 2014

STRATEGI DAN INOVASI DALAM MEMBANGUN PENDIDIKAN PADA KONSEP MASYARAKAT INFORMASI INDONESIA MENUJU MDGS (Millenium Development Goals) 2015

Indonesia memiliki tujuan dalam Millenium Development Goals (MDGs) 2015 serta bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah peradaban satu negara adalah majunya pendidikan. Berdasarkan data, mengenai pendidikan, pada data tahun 2008 tercatat angka 94,7% anak laki-laki dan perempuan masuk sekolah dasar. Namun, perbedaan antar daerah satu dengan daerah yang lainnya masih cukup tinggi, yaitu dari 89,31% untuk Aceh hingga 86,91% untuk Papua. Permasalahan semakin muncul dengan adanya banyak program yang akan dibahas pada makalah ini mulai dari SMP Terbuka, SD-SMP satu atap, RSBI, Ujian Nasional, sertifikasi guru dan pendidik dan masih banyak lagi. Salah satu strategi dan inovasi dalam pendidikan yang akan dibahas pada makalah ini adalah mengenai peran teknologi informasi dan komunikasi pada kehidupan sehari-hari yang tidak dapat dipisahakan, terkadang penggunaanya sangat membantu dan juga terkadang menjadikan tertinggal karena terlalu cepatnya perkembangannya, khususnya jika jenjang kualifikasi yang dimiliki masyarakatnya rendah.
Konsep masyarakat informasi sebenarnya muncul pada tahun 1970-an dari para ilmuwan dengan sudut pandang dan definisi yang berbeda-beda. Daniel Bell (1973), menggunakan istilah ‘post-industrial society’ untuk menyebut masyarakat informasi yaitu pergantian produksi barang-barang kepada sistem pengetahuan dan inovasi pelayanan sebagai strategi dan sumber transformasi dalam masyarakat, perkembangannya mengakibatkan perubahan kesejahteraan dari masyarakat yang menggunakan industri sebagai komoditinya beralih menjadi informasi sebagai bagian dari bagian terpenting yang ada di masyarakat tersebut, perubahan masyarakat informasi menjadi salah satu tujuan yang akan direalisasikan pada MDGs 2015 nanti. Fritz Machlup (1983), memperkenalkan istilah ‘knowledge industry’ dengan membedakan 5 sektor pengetahuan yaitu pendidikan, penelitian dan pengembangan, media massa, teknologi informasi, dan layanan informasi. Masuda (1990), mengemukakan bahwa pada masyarakat informasi terjadi transisi dimana produksi nilai-nilai informasi menguasai perkembangan masyarakat.
Menurut William J. Martin (1995), masyarakat informasi adalah suatu keadaan masyarakat dimana kualitas hidup, prospek untuk perubahan sosial dan pembangunan ekonomi bergantung pada peningkatan informasi dan pemanfaatannya. Beberapa definisi masyarakat informasi diatas, tidak lepas dari tiga komponen utama yang menjadi pendorong munculnya masyarakat informasi yaitu dinamika informasi dan komunikasi, perkembangan dalam teknologi informasi (komputer), dan perkembangan dalam teknologi komunikasi. Untuk dua komponen terakhir, lebih dikenal dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Efek dari ketiga informasi diatas dapat dilihat dengan terjadinya peningkatan kualitas dan kuantitas produk-produk informasi dan pelayanan serta luasnya jaringan komunikasi melalui media yang dilakukan secara elektronik dan terpasang.
Perkembangan TIK di negara-negara maju terjadi dengan sangat cepat dan keberadaannya dimanfaatkan untuk seluruh aktivitas masyarakat sehari-hari khususnya untuk pendidikan. Pada Negara berkembang seperti Indonesia, TIK baru dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat terutama yang berdomisili di daerah perkotaan. Hal ini terjadi antara lain terjadi karena negara Indonesia merupakan negara kepulauan dengan lebih dari 16.000 pulau yang belum meratanya pembangunan serta masih kurangnya jaringan-jaringan telekomunikasi yang ada untuk menjangkau daerah-daerah terpencil dan jauh dari perkotaan.
Usaha untuk mencerdaskan bangsa, sedang dilakukan oleh berbagai pihak terutama pemerintah dan sektor swasta yang lebih banyak berperan dalam menggerakkan roda pembangunan sesuai dengan cakupan perancangan MDGs 2015.
Di Indonesia, semakin banyak mahasiswa, professor, ilmuwan dan lainnya turut serta mengembangkan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Indonesia. Teknologi informasi dan Komunikasi dipandang sangat penting untuk dikembangkan di Indonesia, penyebabnya karena bangsa Indonesia tertinggal oleh bangsa-bangsa lain salah satunya adalah karena minimnya perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Indonesia. Kebanyakan bangsa kita lebih senang memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi, tetapi tidak banyak yang berminat untuk bisa menguasai dan mengembangkannya. Melihat dari uraian diatas, maka sudah seharusnya bangsa Indonesia berusaha untuk bangkit dan berkembang. Sebenarnya bangsa Indonesia mempunyai banyak pemuda yang mempunyai bakat dalam bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi, akan tetapi karena mungkin keterbatasan biaya, maka mereka menjadi kurang bersemangat untuk mengembangkannya.
Pentingnya teknologi informasi dalam pendidikan di indonesia ini diibaratkan jika dulu orang menempuh jarak ribuan km untuk mendapatkan informasi secara akurat, kini dapat ditempuh hanya dalam waktu beberapa detik saja melalui media internet. Kita dapat berkomunikasi dengan teman, maupun keluarga yang sangat jauh hanya dengan melalui handphone. Di era globalisasi ini segala sesuatu dituntut untuk serba praktis, cepat, dan tepat, maka dibutuhkan sarana dan prasarana yang dapat memenuhi hal tersebut,  diantaranya dengan adanya sebuah teknologi informasi dan komunikasi yang mampu melayani dan memenuhinya. Dengan semakin globalnya kebutuhan manusia akan informasi dan komunikasi, maka diharapkan kepada masyarakat teknologi informasi dan komunikasi dapat dijadikan sebagai :
A. Sarana pelengkap dan pembantu dalam suatu proses kegiatan yang berjalan serba cepat dan tepat.
B. Alat bantu untuk mengambil, mengolah, menyimpan, dan menyajikan informasi dengan  cepat, tepat, dan efisien.
C. Bahan referensi dari berbagai aspek kegiatan dan mampu memberikan sajian data yang sesuai dengan kebutuhan.
D. Teknologi informasi dan komunikasi merupakan wahana pembelajaran dan penyampaian materi pendidikan yang cepat, tepat, dan efisien

Kamis, 03 April 2014

Cancer stem cell

MAKALAH
KULTUR JARINGAN HEWAN
Stem Sel Kanker





Disusun oleh:
1.        Graha Permana                  24020111120002
2.        Indra Prawira                    24020111120004
3.        Putri Ramadhani                24020111120008
4.        Dwi Purwati                      24020111120009
5.        Ajeng Fatria S                   24020111120010
6.        Nur Indah A                     24020111120007
7.        Eka Fitriani                       24020110120002
8.        Dewi Purwaningsih           24020110120001



JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG, 2014


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Kanker adalah penyakit yang ditandai dengan kelainan siklus sel khas yang menimbulkan kemampuan sel untuk : tumbuh tidak terkendali (pembelahan sel melebihi batas normal),  menyerang jaringan biologis di dekatnya , bermigrasi ke jaringan tubuh yang lain melalui sirkulasi darah atau sistem limfatik, disebut metastasis. Kebanyakan kanker menyebabkan kematian. Kanker adalah salah satu penyebab utama kematian di negara berkembang. Kebanyakan kanker dapat dirawat dan banyak disembuhkan, terutama bila perawatan dimulai sejak awal. Kanker adalah penyakit yang 90-95% kasusnya disebabkan faktor lingkungan dan 5-10% karena faktor genetik. Faktor lingkungan yang biasanya mengarahkan kepada kematian akibat kanker adalah tembakau (25-30%), diet dan obesitas (30-35 %), infeksi (15-20%), radiasi, stres, kurangnya aktivitas fisik, polutan lingkungan.
Berbagai hasil penelitian yang telah ada mengungkapkan keberadaan cancer stem cell yang dinilai menjadi alasan terjadinya relaps, resistansi, dan metastasis berbagai jenis kanker. Sel kanker dengan potensi tumorigenik seringkali disebut dengan tumor initiating cell atau cancer stem cell. Terungkapnya keberadaan cancer stem cell di antara populasi sel kanker lainnya telah menciptakan sudut pandang yang berbeda dari yang telah ada selama ini. Dengan keberadaannya, populasi sel kanker tidak lagi dipandang sebagai suatu populasi sel yang homogen dengan potensi yang sama dan merata,melainkan layaknya sel normal yang memiliki hirarki dengan tingkat diferensiasi sel yang berbeda satu dengan yang lain. Karena berada di puncak hirarki, cancer stem cell dianggap bertanggung jawab atas kejadian relaps, resistansi, dan metastasis.
Cancer stem cell adalah subpopulasi sel kanker yang memiliki potensi tumorigenik sehingga merupakan sel yang dapat menginisiasi terbentuknya tumor. Cancer stem cell diduga berasal berasal dari  stem cell normal ataupun sel progenitor yang mengalami sejumlah perubahan sifat, baik yang bersifat mutagenik maupun non-mutagenik. Sama halnya dengan stem cell normal, cancer stem cell seringkali berada dalam keadaan tidak aktif. Akibatnya, berbagai golongan senyawa kemoterapi yang umumnya hanya mengenali dan bersifat toksik terhadap sel kanker yang aktif berproliferasi, tidak berefek pada cancer stem cell. Pada akhirnya, hal ini pula yang menyebabkan relaps kanker yang sama pada pasien yang telah menjalani rangkaian terapi kanker secara tuntas. Atas dasar ini maka satu-satunya solusi untuk mengatasi masalah metastasis, resistansi, dan relaps kanker adalah eradikasi cancer stem cell. Demi tujuan tersebut, optimasi protokol identifikasi dan isolasi cancer stem cell terus dilakukan.
Oleh karena itu, saat ini banyak peneliti dan praktisi medis di dunia berpendapat bahwa cancer stem cell adalah sel yang harusnya menjadi target obat antikanker. Hal ini berarti bila cancer stem cell berhasil dibunuh maka resistansi dan relaps pascapengobatan antikanker tidak akan terjadi.

1.2  Tujuan
Menjelaskan tentang hakekat keberadaan, patomekanisme, karakteristik, dan identifikasi cancer stem cell, serta tantangan peneliti dan praktisi klinis dalam mengoptimalkan penerapan teori cancer stem cell demi kemajuan pengetahuan dan kepentingan pasien.

1.3  Manfaat
Memperoleh populasi cancer stem cell demi kemajuan pengetahuan dan kepentingan penderita kanker, sehingga memperkecil angka mortalitas yang terjadi akibat dari kanker.



BAB II
METODOLOGI DAN PEMAPARAN

Isolasi dan karakterisasi cancer stem cell

Sebagai kelompok sel yang hanya mencakup sebagian kecil dari total sel kanker, populasi murni cancer stem cell hanya bisa didapatkan melalui sejumlah tahapan disagregasi dan isolasi berdasarkan karakteristik yang membedakannya dengan sel kanker lain. Beberapa teknik isolasi cancer stem cell yang umum digunakan adalah :
a. Pembentukan sphere
Metode isolasi cancer stem cell berdasarkan kemampuannya dalam membentuk sphere pertama kali ditunjukkan oleh cancer stem cell pada tumor otak. Sphere adalah sekelompok sel yang membentuk suatu kesatuan dengan struktur sferis dan tidak menempel pada dasar cawan kultur. Setelah dilakukan pengambilan massa tumor yang disusul oleh disagreagasi secara mekanik maupun enzimatik, sel-sel tumor yang diduga mengandung cancer stem cell dikultur dalam medium tanpa serum yang telah diberi Endothelial Growth Factor (EGF) dan basic Fibroblast Growth Factor (bFGF). Setelah dijaga dan dilakukan pasase secara teratur, sphere akan terbentuk dalam populasi sel yang mengandung cancer stem cell tersebut. Karena sphere dibentuk oleh cancer stem cell dan sel progenitor kanker maka jumlah sel yang terdapat dalam sphere tidak dapat digunakan untuk menghitung kuantitas cancer stem cell secara akurat. Hasil penelitian Singh SK dkk., mengungkapkan bahwa <1% sel yang membentuk sphere sel tumor otak adalah cancer stem cell, sedangkan mayoritas sisanya adalah sel progenitor kanker. Meskipun banyak yang menyimpulkan bahwa pembentukan satu sphere dilakukan oleh satu cancer stem cell, rasio ini tidak dapat dipastikan dan dijadikan nilai ukur yang konsisten. Sekalipun tidak dapat digunakan untuk menghitung jumlah cancer stem cell secara akurat, pembentukan sphere merupakan hal yang dapat digunakan sebagai bukti keberadaan cancer stem cell. Sifat self renewal yang hanya dimiliki cancer stem cell dapat dilihat dari stabilitas penyelenggaraan self renewal setelah mengalami >5 kali pasase. Apabila diferensiasi terjadi pada tahapan kultur selanjutnya maka sel-sel penyusun sphere mampu membentuk seluruh jenis sel kanker yang sebelumnya ditemukan pada massa tumor. Potensi tumorigenik juga dapat dibuktikan secara in vivo dengan melakukan implantasi sphere pada tikus imunodefisien. Bila sphere yang ditransplantasikan dapat memicu terbentuknya tumor maka pembuktian keberadaan cancer stem cell secara in vivo telah berhasil dilakukan.

b. Side Populations
Salah satu potensi yang diduga membuat cancer stem cell resistan terhadap banyak obat kemoterapi adalah aktivitas ATP-Binding Cassette (ABC) transporter yang dimilikinya. Melalui aktivitas ABC transporter, cancer stem cell dapat melakukan efluks atau pengeluaran berbagai senyawa yang bersifat toksik dan membahayakan kehidupan sel dengan sangat cepat. Berdasarkan potensi ini maka salah satu metode identifikasi dan isolasi cancer stem cell yang juga dapat dilakukan adalah dengan mengenali side populations. Side populations adalah populasi minoritas sel yang menunjukkan fluoresensi minimal ketika sel diwarnai dengan senyawa pewarna DNA, seperti Hoechst 33342. Fluoresensi akibat Hoechst 33342 disebabkan oleh ikatan senyawa pewarna tersebut dengan daerah pada rantai DNA yang banyak mengandung pasangan basa A-T. Pada penelitian yang menggunakan stem cell hematopoitik, efluks Hoechst 33342 merupakan hasil aktivitas transpor yang dimediasi oleh ABC transporter dari protein Multidrug Resistance (MDR). Kesimpulan tersebut didapat karena saat dilakukan penambahan verapamil yang merupakan inhibitor MDR1, jumlah side populations pun berkurang. Dengan menggunakan alat Fluorescence Activated Cell Sorting (FACS), side populations dapat terlihat pada kuadran kiri bawah dalam gambaran status fluoresensi sel. Meskipun side populations terbukti sebagai populasi sel yang masih primitif dan mengekspresikan banyak molekul penanda stem cell, side populations merupakan populasi sel heterogen yang juga diduga banyak mengandung sel progenitor. Banyaknya senyawa Hoechst 33342 yang mengalami efluks dianggap menggambarkan keprimitifan sel, sehingga sel yang lebih tidak dapat diwarnai dengan Hoechst 33342 adalah sel yang lebih primitif dan memiliki aktivitas ABC transporter yang lebih tinggi dibandingkan sel lainnya. Hingga saat ini, status diferensiasi kelompok sel yang terdapat dalam side populations masih banyak diperdebatkan, terlebih beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa sebagian sel yang tidak teridentifikasi dalam side populations juga menunjukkan potensi untuk melakukan pembelahan secara asimetris. Berdasarkan pengetahuan yang telah ada, metode side populations dapat menjadi metode pilihan untuk melakukan identifikasi dan isolasi cancer stem cell, terutama jika molekul protein permukaan spesifik yang dimiliki cancer stem cell yang diinginkan belum diketahui.

c. Identifikasi keberadaan molekul protein permukaan spesifik
Secara morfologis, cancer stem cell tidak dapat dibedakan dengan sel kanker lain yang telah lebih berdiferensiasi. Pengenalan molekul protein permukaan spesifik dengan menggunakan Flourescence Activated Cell Sorting (FACS) ataupun Magnetic Cell Sorting (MACS) adalah metode isolasi cancer stem cell yang paling dapat diandalkan. Pada metode isolasi dengan menggunakan FACS maupun MACS, cancer stem cell berikatan dengan antibodi dari molekul protein permukaan yang dimilikinya, sehingga dapat dipisahkan dari sel-sel lain yang tidak memiliki molekul protein permukaan yang sama dan tidak berikatan dengan antibodi yang diberikan. Sejak dicetuskannya teori cancer stem cell, pengenalan subpopulasi sel kanker yang mampu menyelenggarakan aktivitas self renewal didasarkan pada pengenalan molekul protein permukaan spesifik/Cluster of Differentiation (CD) yang dimilikinya. Serupa dengan stem cell hematopoitik, cancer stem cell pada leukemia mieloblastik akut mengekspresikan CD34 pada permukaan selnya. CD34 berperan dalam adhesi leukosit, aktivitas homing stem cell, dan adhesinya di sumsum tulang. Dengan demikian, bila molekul CD34 juga diekspresikan pada permukaan cancer stem cell maka besar kemungkinan cancer stem cell juga dapat melakukan aktivitas homing dan adhesinya pada sumsum tulang, sehingga mempermudah terjadinya invasi dan metastasis kanker. Molekul protein permukaan lain yang seringkali ditemukan pada permukaan cancer stem cell adalah CD44 yang diekpresikan oleh cancer stem cell pada kanker payudara, kanker pankreas, kanker kolorektal, kanker kepala dan leher, serta CD133 yang diekpresikan oleh cancer stem cell pada kanker otak, kanker kolorektal, dan kanker hati. CD44 yang berperan sebagai reseptor utama hyaluronan memiliki beberapa subtipe, seperti CD44s, CD44v3,8-10 yang terbukti berperan dalam proses terjadinya metastasis kanker. Berbeda dengan CD34 dan CD44, hingga saat ini fungsi CD133 belum diketahui, sekalipun CD133 terbukti diekspresikan oleh subpopulasi kanker di berbagai organ. Setelah proses isolasi dilakukan, karakteristik cancer stem cell harus diuji secara ilmiah untuk membuktikan potensi yang dimilikinya. Untuk menguji potensi tumorigeniknya, populasi sel yang diduga mengandung cancer stem cell ditransplantasikan pada tikus Non-obese Diabetic/SevereCombined Immunodefficient (NOD/SCID). Apabila populasi sel tersebut mampu menyebabkan terbentuknya tumor dalam tubuh tikus maka sel yang ditransplantasikan dianggap masih memiliki potensi tumorigenik. Untuk membuktikan keberadaan potensi self renewal dari cancer stem cell, peneliti dapat melakukan transplantasi berseri dan kulturisasi in vitro populasi sel yang diduga mengandung cancer stem cell. Apabila populasi sel tersebut dapat menyebabkan terbentuknya tumor pada secara berkelanjutan serta dapat membentuk sphere setelah berulang kali dilakukan subkulturisasi maka populasi sel yang diuji dapat dikatakan terbukti memiliki potensi self renewal. Potensi diferensiasi cancer stem cell diuji secara in vitro maupun in vivo. Pada pengujian secara in vitro maupun in vivo, populasi sel yang diduga mengandung cancer stem cell harus mampu berdiferensiasi menjadi populasi sel kanker heterogen yang membentuk tumor.
 
Aplikasi konsep cancer stem cell dalam penelitian dan klinis
Sejak terbuktinya keberadaan dan peran cancer stem cell dalam kanker, banyak peneliti dan pekerja medis yang berpendapat bahwa cancer stem cell adalah subpopulasi sel kanker yang harus dijadikan target eradikasi secara total, demi penyembuhan kanker secara sempurna pada pasien yang menderitanya. Oleh karena itu, penelitian yang bertujuan pada pengembangan diagnosis dan terapi kanker semakin banyak difokuskan pada cancer stem cell. Berdasarkan pengetahuan mengenai molekul protein permukaan cancer stem cell pada leukemia mieloblastik akut maka semakin tinggi presentase sel CD34 dan CD38 merupakan implikasi semakin tingginya risiko terjadinya relaps pasca terapi dan semakin rendahnya angka kebertahanan hidup pasien yang menderitanya. Hal ini logis mengingat semakin banyak cancer stem cell yang terdapat dalam massa sel tumor berarti semakin tinggi pula kemungkinan terjadinya relaps, metastasis, dan resistansi, sehingga prognosis pasien penderita kanker pun semakin buruk. Hingga kini, terdapat beberapa metode yang mungkin dapat ditempuh untuk menghambat maupun mengeradikasi cancer stem cell. Seperti yang telah dituliskan sebelumnya, beberapa protein seperti Wnt, Notch, dan Hedgehog telah terbukti menjadi regulator aktivasi serta ekspansi jumlah cancer stem cell. Inhibisi terhadap protein pemicu terjadiya aktivasi dan ekspansi cancer stem cellini adalah salah satu landasan terapi yang ditujukan untuk menurunkan jumlah cancer stem cell. Senyawa cyclopamine yang merupakan inhibitor Hedgehog terbukti menurunkan jumlah cancer stem cell dalam multipel mieloma secara signifikan. Pada tumor otak, terapi dengan menggunakan inhibitor γ-secre- tase yang menghambat jalur pengiriman sinyal Notch juga terbukti secara selektif menurunkan subpopulasi cancer stem cell yang mengekspresikan molekul protein permukaan CD133 dan protein Nestin. Selain hambatan pada berbagai protein yang meregulasi aktivasi dan ekspansi cancer stem cell, terapi kanker juga dapat dilakukan dengan cara memicu terjadinya diferensiasi cancer stem cell. Contoh dari hal ini adalah terapi menggunakan senyawa asam retinoid yang dikombinasikan dengan dibutyryl-cAMP mampu memicu terjadinya diferensiasi cancer stem cell pada teratokarsinoma. Asam retinoid bekerja melalui reseptor spesifik asam retinoid pada inti sel untuk mengaktifkan transkripsi yang dimediasi oleh c-Fos/c-Jun, yang selanjutnya akan memicu terjadinya diferensiasi cancer stem cell. Seperti halnya stem cell neural yang normal, cancer stem cell pada glioma juga mengekspresikan reseptor BMPs pada permukaannya, sehingga terapi dengan BMPs dapat memicu terjadinya diferensiasi cancer stem cell pada glioma. Meskipun penelitian pada pengembangan terapi yang menargetkan cancer stem cell telah menunjukkan hasil yang memberi harapan, namun kami berpendapat bahwa metode yang digunakan masih jauh dari kelayakan untuk dapat diterapkan secara rutin dalam praktik klinis. Pendapat ini didasari pada kenyataan bahwa hampir seluruh molekul protein permukaan cancer stem cell dan protein yang menjadi regulator ekspansi dan diferensiasinya, adalah sama persis dengan karakteristik yang dimiliki oleh stem cell normal. Dengan demikian, apabila metode terapi yang digunakan tersebut didasari oleh pengenalan molekul protein permukaan dan sinyal regulator ekspansi serta diferensiasi cancer stem cell, maka efek terapinya tidak hanya mengenai cancer stem cell, melainkan juga mengenai stem cell normal yang terdapat di jaringan tubuh. Hal ini dapat mengakibatkan deplesi jumlah stem cell normal yang berperan penting dalam menjaga homeostasis jaringan tubuh tersebut. Pada akhirnya, degenerasi dini jaringan tubuh adalah suatu risiko yang sangat mungkin terjadi pascaterapi yang sebenarnya hanya ditujukan pada cancer stem cell. Untuk mengatasi hal ini, kami berpendapat bahwa investigasi pada karakteristik cancer stem cell dan berbagai faktor yang mempengaruhinya masih sangat perlu dilakukan untuk menemukan keunikan cancer stem cell yang sama sekali tidak dimiliki oleh stem cell normal, sehingga hal tersebut dapat dijadikan target terapi definitif yang bekerja secara sangat spesifik pada cancer stem cell saja.

BAB III
RANGKUMAN
Relaps, resistansi, dan metastasis adalah masalah yang seringkali dihadapi oleh dokter dan pasien dalam hal terapi kanker. Berbagai hasil penelitian yang telah ada mengungkapkan keberadaan cancer stem cell yang dinilai menjadi alasan terjadinya relaps, resistansi, dan metastasis berbagai jenis kanker.  Cancer stem cell adalah subpopulasi sel kanker yang memiliki potensi tumorigenik sehingga merupakan sel yang dapat menginisiasi terbentuknya tumor. Cancer stem cell diduga berasal berasal dari stem cell normal ataupun sel progenitor yang mengalami sejumlah perubahan sifat, baik yang bersifat mutagenik maupun non-mutagenik. Sama halnya dengan stem cell normal, cancer stem cell seringkali berada dalam keadaan tidak aktif. Akibatnya, berbagai golongan senyawa kemoterapi yang umumnya hanya mengenali dan bersifat toksik terhadap sel kanker yang aktif berproliferasi, tidak berefek pada cancer stem cell. Pada akhirnya, hal ini pula yang menyebabkan relaps kanker yang sama pada pasien yang telah menjalani rangkaian terapi kanker secara tuntas. Atas dasar ini maka satu-satunya solusi untuk mengatasi masalah metastasis, resistansi, dan relaps kanker adalah eradikasi cancer stem cell. Demi tujuan tersebut, optimasi protokol identifikasi dan isolasi cancer stem cell terus dilakukan. Beberapa molekul penanda yang seringkali dijadikan patokan dalam isolasi cancer stem cell adalah CD34, CD44, dan CD 133. Selain itu, metode isolasi berdasarkan terbentuknya sphere dan penyerapan senyawa pewarna juga dapat ditempuh untuk memperoleh populasi cancer stem cell.


DAFTAR PUSTAKA

Hanahan D, Weinberg RA. The Hallmarks of Cancer. Cell. 2000;100:57-70.
Jordan CT, Guzman ML, Noble M. Cancer stem cells. The New England Journal   of Medicine. 2006;355:1253-61.
Wicha MS, Liu S, Dontu G. Cancer stem cells: An Old Idea-A Paradigm Shift.     American Association for Cancer Research. 2006;66(4):1883-90.


Selasa, 01 April 2014

Pemimpin Indonesiaku, Inspirasi Kesetiaanku pada negara INDONESIA

 .... Diharapkan kepemimpin Indonesia kini dan masa yang akan datang memiliki jiwa Pemimpin yang positif, partisipatif dan berorientasi pada konsiderasi, serta tidak selamanya merupakan pemimpin yang terbaik agar menjadi inspirasi kesetiaan untuk negaraku. Pemimpin Indonesia ku harus seperti :
1.    Seseorang diakui sebagai pemimpin bila kepadanya diberikan kepercayaan.
Pemimpin adalah orang yang diikuti kata-kata dan perbuatannya. Dia diikuti karena dipercaya. Kepercayaan adalah pilar utama pemimpin. Kepercayaan adalah kombinasi dari kompetensi, integritas, dan kedekatan. Ketiga faktor itu meningkatkan tingkat kepercayaan. Tapi ada sebuah faktor yang mampu memelorotkan kepercayaan memimpin yaitu self-interest dan dalam menyamakan self-interestnya-nya dengan kepentingan kolektif bisa membuat pemimpin mengalami erosi kepercayaan. Pemimpin terpercaya bisa selalu menomorsatukan kepentingan kolektifnya. Kecintaannya pada kepentingan kolektif itu memberikan efek yang besar. Kini dan kelak bangsa ini selalu membutuhkan pemimpin yang mencintai bangsanya melebihi cintanya pada dirinya untuk inspirasi kesetiaan dari rakyatnya. Kehadiran pemimpin seperti itu bisa luar biasa dahsyat dalam menggerakkan seluruh bangsa untuk meraih cita-cita kolektif.
2. Pemimpin dan pemimpi bedanya di huruf N. N-nya adalah Nyali berinspirasi. 
Pemimpin pada dasarnya adalah pemimpi. Pemimpi yang mimpi-mimpinya dipercaya dan diikuti untuk menginspirasi kesetiaan para warga negaraku. Pemimpi yang mampu mengonversi mimpi jadi realita bisa disebut sebagai pemimpin. Wajar jika pemimpin menitipkan mimpinya pada imaginasi, dan membiarkan imaginasinya itu terbang amat tinggi lalu ia bekerja amat cerdas dan keras menggerakkan seluruh daya yang tersedia untuk meraih dan melampaui mimpinya untuk menginspirasi seluruh yang ada di Negaranya. Disinilah sebuah huruf N sebenarnya itu mewakili komponen amat kompleks menyangkut kemampuan meraih mimpi dan melampaui mimpi. 
3. Pemimpin selalu disorot untuk Inspirasi kesetiaannya.
Pemimpin adalah manusia yang harus selalu menyadari kemanusiaannya dan sempurna bukanlah atribut yang manusiawi. Karena itu pemimpin harus selalu sadar bahwa ia berada dalam sorotan di saat ia jauh dari kesempurnaan. Efeknya simpel, pemimpin itu jadi kotak pos untuk pujian dan kritikan. Maka itu jika tidak ingin dikritik maka jangan sesekali mau jadi pemimpin yang menginspirasi dalam negaranya. Pemimpin yang matang itu menjalani perannya dengan menempatkan cita-cita bersama sebagai rujukan. Karena itu ia matang dan mantap menjalaninya. Bisa dikatakan bahwa pemimpin yang tulus pada cita-cita kolektifnya itu takkan terbang bila dipuji dan takkan tumbang bila dicaci.
4. Hari ini, republik membutuhkan pemimpin yang berani tegakkan integritas untuk kesetiaan negaranya. 
Berani perangi “jual-beli” kebijakan dan jabatan, dan pemimpin yang mau bertindak tegas kepentingan rakyat “dijarah” oleh mereka yang punya akses. Republik ini butuh pemimpin yang bernyali dan menggerakkan dalam menebas penyeleweng tanpa pandang posisi atau partai. Bukan pemimpin yang serba mendiamkan seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Pemimpin yang bisa jadi bersahabat tampilannya, sopan dan simpel tuturnya, tapi amat besar nyalinya, dan amat tegas sikapnya. Tidak selalu nyaring, tapi selalu bernyali karena nyali itu memang beda dengan nyaring.
Republik ini perlu pemimpin yang bisa mengajak semua untuk mendorong yang macet, membongkar yang buntu, dan memangkas berbenalu. Pemimpin yang tanggap memutuskan, cepat bertindak, dan tidak toleran pada keterlambatan serta pemimpin yang menginspirasi kkesetiaan pada wakil rakyat di Negaranya. Pemimpin yang siap untuk “lecet-lecet” melawan status quo yang merugikan rakyat, berani bertarung untuk melunasi tiap janjinya. Republik ini perlu pemimpin yang memesona bukan saja saat dilihat dari jauh, tetapi pemimpin yang justru lebih memesona dari dekat dan saat kerja bersama.
Bukan pemimpin yang selalu enggan memutuskan dan suka melimpahkan kesalahan. Bukan pemimpin yang diam saat rakyat didera, lembek saat republik dihardik. Pemimpin yang tak gentar dikatakan mengintervensi karena mengintervensi adalah bagian dari tugas pemimpin dan pembiaran tidak boleh masuk dalam daftar tugas seorang pemimpin. Kelugasan, ketegasan, keberanian, kecepatan, keterbukaan, kewajaran, kemauan buat terobosan, dan perlindungan kepada anak buah bahkan kesederhanaan dalam keseharian itu semua bisa menular. Tapi kebimbangan, kehati-hatian berlebih, kelambatan, ketertutupan, formalitas, kekakuan, pembicaraan masalah, orientasi kepada citra dan ketaatan buta pada prosedur itu juga menular. Menular jauh lebih cepat dan sangat sistemik.
5. Kita amat membutuhkan pemimpin yang berorientasi pada gerakan Inspirasi kesetiaan negara.
Pemimpin menjadikan semua merasa ikut memiliki tanggung jawab, merasa ikut memiliki masalah. Pendekatannya movement bukan programmatic sehingga semua merasa terpanggil untuk terlibat. Pemimpin yang bisa membuat semua merasa perlu berhenti lipat tangan, lalu terpanggil untuk gandeng tangan dan turun tangan. Pemimpin yang menggerakkan dan menginspirasi. Akhir-akhir ini kita sering menyaksikan pemimpin hadir untuk “menyelesaikan” tantangan dan masalah. Menyelesaikan tantangan dan masalah itu baik-baik saja. Tetapi sesungguhnya yang diperlukan justru bukan itu. Kita memerlukan pemimpin yang kehadirannya bukan sekadar hadir untuk “menyelesaikan” masalah dan tantangan tapi kehadirannya untuk “mengajak semua pihak turun-tangan” menyelesaikan masalah dan tantangan kesetiaan dalam negaranya.
6. Kita memerlukan pemimpin yang menginspirasi, membukakan perspektif baru yang tidak menginspirasi.
Menyodorkan kesadaran baru dan menyalakan harapan inspirasi jadi lebih terang. Pemimpin yang membuat semua terpanggil untuk turun tangan, untuk bekerja bersama meraih cita-cita bersama. Pemimpin yang kata-kata dan perbuatannya menjadi pesan solid yang dijalankan secara kolosal. Kita memerlukan pemimpin yang menggerakkan Seperti Larutan Cap Kaki Tiga, 75 tahun setia memberi manfaat.

Kamis, 09 Januari 2014

Sesosok Dino Patti Djalal


Dr Dino Patti Djalal adalah Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, seorang penulis pidato, pemuda aktivis, akademisi, dan penulis best seller nasional. Dr Dino Patti Djalal dilahirkan dalam sebuah keluarga diplomatik pada 10 September 1965 di Beograd,Yugoslavia, anak kedua dari 3. Bersaudara. Pengalaman lahir di negara yang tidak lagi ada (Yugoslavia) berfungsi untuk mengingatkan dia tentang pentingnya tertinggi mempertahankan persatuan nasional untuk multi-budaya Indonesia. Ayahnya, Profesor Hasjim Djalal, adalah Duta Besar Indonesia untuk Kanada dan Jerman, dan pakar internasional tentang hukum laut. Hasjim Djalal adalah tokoh kunci dalam “kepulauan konsep”, inovasi hukum di wilayah laut yang secara dramatis – dan damai – dikalikan wilayah kedaulatan teritorial Indonesia. Konsep kepulauan, ditolak dan ditentang oleh kekuatan maritim ketika diumumkan oleh Indonesia pada tahun 1957, sekarang merupakan bagian dari hukum internasional dan didukung sepenuhnya oleh Konvensi PBB tentang Hukum Laut. Dr Dino Patti Djalal bergabung dengan Departemen Luar Negeri Indonesia pada tahun 1987. Dia telah diposting ke Dili, London dan Washington DC, sebelum diangkat sebagai Direktur Urusan Amerika Utara (2002-2004). Dalam tahun-tahun awal karirnya, sebagai asisten kepada Direktur Jenderal untuk Urusan Politik Wiryono Sastrohandoyo, ia terlibat dalam konflik Kamboja, penyelesaian konflik Moro di Filipina, Laut Cina Selatan sengketa, dan konflik Timor Timur.
Dr Dino Patti Djalal yang pertama paparan publik dan internasional adalah ketika ia menjabat sebagai juru bicara Satuan Tugas untuk Pelaksanaan Jajak Pendapat di Timor Timur pada tahun 1999. Dia sangat sedih dan sangat sedih bahwa referendum berakhir dengan kekacauan dan kekerasan – hanya berlawanan dengan tertib dan damai hasil bahwa Pemerintah Indonesia telah berjanji maka PBB. Selama waktu itu, Dr Dino juga menjabat sebagai penghubung informal antara Menteri Luar Negeri Ali Alatas dan pemimpin perlawanan Kay Rala Xanana Gusmao, kemudian diadakan di penjara Cipinang.
Sebagai penulis pidato Presiden, Dr Dino Djalal telah bekerja erat dengan Presiden Yudhoyono untuk mengubah gaya dan nada pidato Presiden internasional – lebih kepribadian, lebih punchy dan kurang mekanis, kurang konvensional, kurang berbunga-bunga, pendek dan kalimat-kalimat yang jelas, lebih mudah untuk telinga. Dr Dino kini mengelola sebuah lokakarya tentang pidato-menulis untuk pejabat pemerintah.
Dino gairah terbesar dalam urusan pemuda. Sejak 2008, ia telah mendirikan “Innovative Leaders Forum” untuk mempromosikan kepemimpinan inovatif dari semua sektor masyarakat Indonesia. Forum telah mengadakan serangkaian seminar publik yang muncul menampilkan pemimpin dalam bidang: tata pemerintahan daerah, pendidikan, pekerja perdamaian, kesehatan, reformasi birokrasi, kewirausahaan, Islam moderat, dan perubahan iklim.
Dr Dino Djalal adalah pendiri Modernisator – sebuah gerakan seperti yang berpikiran reformis progresif dan pemimpin muda yang memeluk slogan “layanan, inovasi, kesempurnaan, keterbukaan, konektivitas”. Tim yang membanggakan Modernisator dinamis pemimpin muda dari berbagai sektor, seperti: Chatib Basri, Emirsyah Satar, Gita Wiryawan, Sandiaga Uno, Lin Che Wei, Omar Anwar, Chrisma Al-banjar, Dian Sasatrowardoyo. The Manifesto Modernisator, yang menguraikan visi abad ke-21 Indonesia, dipandang oleh Prof pemikir Asia Kishore Mahbubani sebagai “sebuah pesan yang berani merangkul modernitas dan keberagaman. Pesan kosmopolitan yang berlawanan dengan pesan dari kelompok agama radikal. Jika gerakan Modernisator terbakar, itu akan lebih memperkuat toleant terbuka dan sifat masyarakat Indonesia “, dan oleh Ketua GE Jeff Imelt sebagai” visi bisnis terbaik yang pernah ia dengar “- keduanya adalah pembicara tamu di acara Modernisator.

Dr Dino juga merupakan conceptor dari Generasi-21, sebuah program yang bertujuan untuk membangkitkan dan mengembangkan rasa identitas yang unik – dan menantang – di kalangan pemuda sebagai generasi pertama abad ke-21 – oleh karena itu, istilah “Generasi 21″. Puncak dari program ini adalah sebuah acara televisi “Generasi 21: Young Leaders Asia Pacific Dialog” yang menampilkan 60 pemimpin muda dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik (termasuk Myanmar) terlibat dalam perdebatan yang hidup mengenai tantangan abad ke-21 dan kemungkinan solusi – meliputi geopolitik, krisis keuangan, globalisasi, konflik, urusan daerah, pendidikan, teknologi, kewirausahaan, perubahan iklim. 90 menit acara televisi sebenarnya adalah versi kental 6-jam diskusi panjang di kalangan pemimpin muda. Sementara bintang-bintang dari acara televisi itu para peserta, para pemimpin dunia juga ambil bagian untuk menginspirasi mereka baik secara langsung dalam studi atau thrugh video dan pesan tertulis: Presiden Barack Obama, Vice President Budiono, Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva, Kishore Mahbubani, ASEAN Sekretaris Jenderal Surin Pitsuwan, penerima Nobel Muhammad Yunus, Tony Fernández. Program ini disiarkan pada November 2009 oleh SCTV, dan bersama-sama diproduksi oleh Modernisator, Asialink (Australia) dan McKinsey.

- Graha Permana -
- Universitas Diponegoro -

KATEGORI I ( Umum dan Mahasiswa )

Sesosok Pemimpin Masa Depan Untuk Indonesia

Sosok pemimpin masa depan itu seperti kepemimpin Generasi Muda, generasi muda kini dan masa yang akan datang memiliki jiwa Pemimpin yang positif, partisipatif dan berorientasi pada konsiderasi, serta tidak selamanya merupakan pemimpin yang terbaik. Ditengah – tengah dinamika organisasi (yang antara lain diindikasikan oleh adanya perilaku staf / individu yang berbeda-beda), maka untuk mencapai efektivitas organisasi, Andaikan Indonesia memiliki pemimpin kini dan Masa datang yang sangat tangguh tentu akan menjadi luar biasa. Karena jatuh bangun kita tergantung pada pemimpin. Pemimpin memimpin, pengikut mengikuti. Jika Seorang pemimpin sudah tidak bisa memimpin dengan baik, cirinya adalah pengikut tidak mau lagi mengikuti. Oleh sebab itu kualitas kita tergantung kualitas pemimpin kita. Makin kuat yang memimpin maka makin kuat pula yang dipimpin. Rahasia utama dari kepemimpinan yaitu memiliki kekuatan terbesar dari seorang pemimpin bukan dari kekuasaanya, bukan kecerdasannya, tapi dari kekuatan pribadinya. Jika ingin menjadi pemimpin yang baik jangan pikirkan orang lain, pikirkanlah diri sendiri dulu. Tidak akan bisa mengubah orang lain dengan efektif sebelum merubah diri sendiri. Bangunan akan bagus, kokoh, megah, karena ada pondasinya. Memikirkan dalam membangun umat, membangun masyarakat, merubah dunia akan menjadi omong kosong jika tidak diawali dengan diri sendiri. Merubah orang lain tanpa merubah diri sendiri adalah mimpi mengendalikan orang lain tanpa mengendalikan diri. Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal.
Kepemimpinan Generasi muda untuk di Indonesia hari ini, tentu berbeda dengan kemarin, atau esok hari. Tentu kita semua berharap agar esok hari dapat melihat Indonesia yang aman, damai, tentram dan sejahtera, dan hal tersebut akan terwujud apabila kita telah menemukan seorang pemimpin yang tepat yang bisa membimbing bangsa yang besar, bangsa kita bangsa Indonesia. Generasi Muda yang akan menjawab semua tantangan masa depan Indonesia ini. Menyedihkan ketika kita melihat para pemimpin kita masih tidak dapat di harapkan, karena bahkan moral pemimpin kita pun masih harus di pertanyakan, masih harus di benahi, lantas bagaimana dengan yang dipimpin? Akankah lebih parah? Ataukah dapat memperbaikinya? Ibarat dalam pesawat terbang pemimpin adalah pilot, dan rakyatnya adalah penumpang, kemana pesawat akan terbang, keselamatan para penumpang dan kenyamanan ketika terbang adalah tanggung jawab pilot dan awak nya, maka ketika terjadi kecelakaan, semuanya adalah tanggung jawab dari sang pilot, saat ini, kita tahu ada yang salah dalam kepemimpinan pemerintah saat ini, maka apakah yang akan terjadi selanjutnya? Tentu semua berharap agar tidak terjadi kecelakaan dan musibah, namun setelah terjadi kesalahan yang di lakukan oleh pemimpin, akankah Indonesia menjadi seperti pesawat sukhoi superjet yang menabrak gunung salak, yang di perkirakan karena pilot yang tidak menguasai medan? Atau perkiraan lainnya, yang mengatakan kesalahan tersebut ada pada control tower nya? Yang jelas, dari tulisan ini, saya hanya berharap agar Indonesia tidak hancur lebur seperti pesawat sukhoi superjet, yang hanya tersisa black box-nya dan puing puing potongan jenazah dari korban korbannya, atau dengan kata lain, hanya sejarah yang tersisa di negeri ini, dan rakyat rakyatnya yang menderita luka yang sangat dalam. Indonesia hari ini, banyak hal menyeramkan, menyedihkan, konyol, dan membuat miris yang akan kita rasakan. Orang-orang mulai melupakan rasa moralitas, juga idealisme dalam bermasyarakat ketika menyangkut hal yang berbau materi, masyarakat kita, tidak terkecuali para pemimpin yang sedang berkuasa saat ini, cenderung lebih memikirkan keuntungan pribadi dibandingkan dengan kepentingan umum, yang mereka lakukan dengan cara yang kejam seperti menipu, mencuri, merampok, membunuh, korupsi. Semua ini adalah sebuah Tulisan dari Generasi Muda Indonesia yang Menjawab Tantangan Masa Depan untuk indonesia.

- Graha Permana -
- Universitas Diponegoro -

KATEGORI I ( Umum dan Mahasiswa )

Rabu, 25 Desember 2013

For a Better Indonesia

SUBSTITUTION OF WHEAT (Triticum aestivum) FLOUR BY
ARROWROOT (Maranta arundinaceae L) FLOUR IN BREAD MAKING
                                
Indonesia is now a crisis in the field of food that the longer the greater the public need to wheat that trigger import with a sizeable amount for wheat as food Ideal for a variety of foods, such as noodles, cakes, breads, and pasta. It is associated with typical components of the wheat gluten flour that is not owned by non-wheat. Gluten is a type of protein and wheat are in about 80% of total protein wheat. Gluten consists of gliadin and globulin, which affect to the elasticity of the dough and elasticity of food or produce viscoelastic properties, so that the sheet can be made of flour dough, milled, and made fluffy. Today were developed from a variety of starchy tubers Local crops are abundant presence in Indonesia, which has the potential to as a source of carbohydrates, such as sweet potatoes and yams arrowroot. Arrowroot (Maranta arundinaceae L) or arrowroot tubers is one that could potentially be substituents in the manufacture of pastry flour, noodles, and bread (Karjono,1998) when made flour first. One food product that can be made with wheat substitution use flour and arrowroot starch is bread. Today, the consumption of bread bargaining increasingly popular, so that dependence on wheat through the use of arrowroot flour as substituents are expected to be achieved. Require baking gluten to the formation of sponge (Hollow impression), because the gluten will trap air inside dough during cooking and reinforce the structure. Gluten is type of protein found in wheat only. Nevertheless, it is performed partial substitution of wheat in making dough for products The food, to reduce the use of wheat.
Selection of arrowroot in the form flour instead of starch due to the higher fiber content of flour because flour obtained by slicing thinly and then drying the tubers grind. While arrowroot starch is obtained by extraction so is likely to contain less fiber than arrowroot flour.Conditions of Indonesian society who depend on food particular for rice and wheat can weaken food security nationwide. One concern was the fact that in the period January to April 2005, a surge in imports of wheat to 176 thousand tons from the original 98 thousand tons in 2004 in the same period, and is expected during the year 2005 to 2006 will be doubled compared to 2004. Facing this, the need of development in the field of food that is geared to increase food self-sufficiency is not only one oriented on food grain but supported also by the types of other strategic commodities, such as tubers, such as canna, arrowroot potato, sweet potato, taro, and cassava, as well as producing trees foods such as sago, breadfruit, and sugar. By doing excavation potential Local food through food diversification, it will support national food security and reduce dependence on society will flour. Foodstuffs is expected to substitute for wheat though some products may only be a partial substitution. Local food diversification program was expected to decrease wheat flour import. The objective of this study are (i) to determine the proportion of arrowroot flour to be substituted to wheat flour in bread which still acceptable for the panelist, (ii) to evaluate the chemical and physical properties of the best substitute bread. Substitution of the flour was conducted from 0 to 25%. Physical properties including degree of development, homogeneity, toughness, also color and chemical properties proximate, sugar, starch, and dietary fiber were analyzed. It was found that the substitution of 10% was still acceptable.
This substitution decreased the degree of development and homogeneity compared to control bread (without substitution) but toughness was increased and the color of bread became dull. Moisture content, protein, fat, and sugar were decreased but ash and starch were increased. This substitution increased about 1% total dietary fiber content of the bread. the addition of arrowroot flour food causes an increase in fiber although in an amount not greater or less than 1%. Besides the use of arrowroot flour as a substituent, increased levels of dietary fiber also supported the event which encourages the formation of retrogradation resistant starch. Garut flour substitution up to 10% on the baking straight dough method produces bread that is still acceptable or acceptable panelists. In terms of its chemical properties, increasing the percentage of substitution arrowroot powder led to decrease in water content, protein content, fat content and total sugar, and increasing ash content, total starch, and fiber content of food. Judging physical properties, partially substituted white bread with flour arrowroot color change, development, and violence. Color bread bargaining of which was originally white yellowish become yellow faded. Level of development has decreased and violence bread increases with increasing percentage of arrowroot flour substitution. While the homogeneity of bread has not changed much. Arrowroot flour substitution may slightly increase the fiber content of food on white bread. Wheat has a number of protein is much higher but because the largest component is then when the process of the formation of gluten dough the gluten out of protein, so that the amount of protein than bread made ​​from 100% wheat contained almost the same as those substituted with Garut flour. Bread products also has a high starch content than white bread that is not substituted arrowroot flour. In dough, starch granules are among gluten-layer film coating surrounding the air cavity, and then gelatinization resulting bread had become staunchly structure, consequently when too much starch, bread becomes hard.

However, if taken into account as an alternative substitution of wheat flour, arrowroot flour enough to potentially cause the product require development such as white bread, substitutions can be made it is estimated that up to 10% for products that do not require development, for example, cookies can be made ​​larger substitution again. Thus the phenomenon of increased imports of wheat can overcome any only with the use of arrowroot tubers are processed into Garut flour. The addition of Garut flour in order to further increase the fiber content of food but it has physical properties which are still preferred or acceptable to consumers.

Cendana ( Santalum album L )

Klasifikasi Ilmiah
1.      Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliphyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Santales
Famili : Santalaceae
Genus : Santalum
Spesies : Santalum album L.

2.      Kingdom: Plantae
     Subkingdom: Tracheobionta
         Super Divisi: Spermatophyta
             Divisi: Magnoliophyta
                 Kelas: Magnoliopsida
                     Sub Kelas: Rosidae
                         Ordo: Santales
                             Famili: 
Santalaceae 
                                 Genus: 
Santalum
                                     Spesies: Santalum album L.
Deskripsi        :
Cendana mempunyai penyebaran alami terbatas di Indonesia antara lain Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi dan Maluku. Tanaman ini tumbuh baik pada ketinggian antara 50 – 1200 meter dpl, tipe iklim D dan E (menurut Schmidt-Ferguson) dengan rata-rata curah hujan per tahun antara 1100 – 2000 mm serta memiliki 14 hari hujan dalam 4 bulan terkering. Tanaman cendana sangat cocok pada daerah yang berudara dingin dan kering serta intensitas cahaya matahari yang cukup. Bulan kering yang panjang sangat baik pengaruhnya terhadap pembentukan minyak dan aroma. Anakan cendana sangat peka terhadap kekeringan dan sinar matahari langsung, sehingga mudah layu. Pada tanah yang banyak mengandung humus, pertumbuhan candana lebih baik daripada ditanah yang gersang dan tererosi atau ditempat yang banyak ditumbuhi rumput. Dari hasil analisa terhadap beberapa macam contoh tanah yang dikumpulkan dari berbagai daerah tempat tumbuh cendana dapat diketahui bahwa:
1.      Pada umumnya cendana dapat tumbuh ditanah yang berbatu-batu (lebih kurang 30 cm).
2.      Dapat tumbuh ditanah liat dan galuh, akan tetapi lebih baik ditanah galuh (leemground).
3.      Kirasan pH tanah, mulai dari sedikit dibawah netral sampai dengan sedikit alkalis.
4.      Dapat tumbuh pada kadar hara yang rendah sampai kadar yang tinggi (terutama kadar N, P2O5 dan K2O).
5.      Tanah dilapisan atas harus gembur dengan bobot jenis di bawah 1.2 persen.
6.      Warna tanah dari merah sampai coklat; ditanah yang berwarna hitam atau putih pertumbuhan cendana kurang baik.
Habitus
Tanaman ini berupa pohon kecil yang selalu hijau dengan batang yang lurus dan bulat tanpa alur. Daun berbentuk ovate atau lenset dan berminyak, dengan panjang sekitar 3.25 – 7.50 cm. Tanaman tersebut berbunga cepat, dan pada umur 3 – 4 tahun, mulai berbuah. Bunganya hermaphrodite, berbentuk tabung yang mempunyai empat sampai lima lidah yang terlepas satu dengan lainnya. Buah cendana merupakan biji yang keras berbentuk bulat, berwarna hitam dengan tiga keratan dari ujung ke tengah-tengah dinding bijinya keras. Daging bijinya tipis. Musim bunga utama pada bulan Desember hingga Januari. Buahnya masak pada bulan Maret dan Juni. Pohon cendana telah berbuah pada usia 3 – 4 tahun. Namun untuk bibit yang terbaik adalah buah dari pohon yang telah berusia 20 tahun. Buah yang masak jatuh dan lekas rusak. Semut, tikus dan burung suka makan buahnya. Namun benih hanya tumbuh pada lingkungan yang ideal. Cendana dapat berkembang biak melalui biji dan akar.
Kayu galih atau teras cendana keras berserat padat dan berwarna kekuning-kuningan dan brminyak. Kayu pinggirnya berwarna putih dan hampir tidak berbau. Pembentukan galih atau teras dimulai sekitar usia 15 tahun. Namun pohon cendana baru siap dipanen pada usia 40 – 50 tahun.

Kegunaan
Kayu cendana memiliki aroma harum. Kayu dan minyaknya digunakan untuk upacara agama maupun upacara tradisional di berbagai negara. Minyak atsiri yang dihasilkan merupakan bahan baku untuk produksi parfum,sabun,obat-obatan dan kosmetik. Kayunya digunakan untuk barang-barang kerajinan. Kualitas tertinggi kayu cendana berasal dari bagian paling bawah pohon yang telah berumur lebih dari 50 tahun dan tumbuh di hutan. Akar cendana mengandung 10% minyak, sedangkan bagian kayu batang dan ranting mengandung 2-4% minyak.
Penyakit Yang Dapat Diobati :
KHASIAT Antipiretik, analgesik, karminatif, stomakik, dan diuretik
Nama Lokal : 
Candana (Minangkabau), tindana, sindana (Dayak); candana (Sunda); candana, candani (Jawa); candhana, candhana lakek (Madura); candana (Belitung); ai nitu; dana (Sumbawa); kayu ata (Flores); sundana (Sangir); Sondana (Sulawesi Utara); ayu luhi (Gorontalo); candana (Makasar); ai nituk (Roti); hau meni, ai kamelin (Timor); kamenir (Wetar); maoni (Kisar). Nama simplisia santali lignum; kayu cendana. Santali Oleum; minyak cendana. 
Uraian : 
Tumbuhan berupa pohon, tinggi antara 12 dan 15 meter. Kulit berkayu kasar, berwarna kelabu. Daun mudah gugur. Tumbuh di tanah yang panas dan kering, di tanah yang banyak kapurnya. 

Khasiat untuk kesehatan untuk mengobati sakit : 
Kayu : antiseptik saluran kemih, disentri, mencret, radang usus. 
Daun : asma. 
Kulit kayu/Kulit akar : haid tidak teratur. 
Komposisi : 

Kayu : minyak atsiri, hars, dan zat samak. Minyak : Santalol (seskuiterpenalkohol), santalen (seskuiterpena), santen, santenon, santalal, santalon, dan isovalerilal-dehida. Komponen kimia yang dikandungnya adalah cis –α – santalol , cis – β – santalo