Minggu, 18 Mei 2014

INDONESIA HARUS BEBAS DARI KEREDUPAN



Indonesia hari ini, tentu berbeda dengan kemarin, atau esok hari. Tentu kita semua berharap agar esok hari dapat melihat Indonesia yang aman, damai, tentram dan sejahtera, dan hal tersebut akan terwujud apabila kita telah menemukan seorang pemimpin yang tepat yang bisa membimbing bangsa yang besar, bangsa kita bangsa Indonesia. Menyedihkan ketika kita melihat para pemimpin kita masih tidak dapat di harapkan, karena bahkan moral pemimpin kita pun masih harus di pertanyakan, masih harus di benahi, lantas bagaimana dengan yang dipimpin? Akankah lebih parah? Ataukah dapat memperbaikinya? mereka yang memberikan contoh buruk itu bisa terpilih ketika pemilu? Lalu, kesalahan siapakah ini? Cukup, pertanyaan tersebut tidak memerlukan jawab, dan hanya dapat berdampak baik jika pertanyaan tersebut di peruntukan menjadi renungan, karena itulah yang terjadi hari ini di Indonesia. Dan besok hari? Kitalah sebagai generasi pembaharu yang akan menjawab pertanyaan tersebut dengan perbaikan dan harapan yang besar untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Inilah Indonesiaku yang semakin lama semakin meredup. Indonesia kini seringkali menyebut kemerdekaan yang tidak identik dengan kemakmuran. Kemerdekaan Indonesia suatu bangsa membutuhkan ongkos pengorbanan dari para pejuang sebelum kemerdekaan. Mengkorupsi uang pajak, secara egois menggunakan kesempatan yang disediakan oleh orang lain itu semua kemerdekaan tanpa hati nurani di konteks yang besar dan luas. Melupakan pengorbanan dan dukungan rekan kerja, ataupun menganggap remeh orang-orang sekitar yang mengalah pada kita itu juga kemerdekaan tanpa hati nurani. Ketika kita menikmati kemerdekaan kita dengan menyakiti orang lain, maka kemerdekaan kita sebenarnya cuma eksploitasi atas kerelaan, kepercayaan, kecintaan dan pengorbanan mereka yang mendukung kemerdekaan kita. Selama korupsi masih ada di negeri Indonesia maka kemerdekaan hanyalah wacana. Peringatan kemerdekaan yang setiap tahun dikumandangkan tanpa makna apa-apa hanya seremonial belaka karena pemimpin yang diberi amanah tidak menjalankan yang tertera di UUD 1945. Masalah bangsa kita adalah seringkali kita kaya semangat tapi miskin dengan konsep. Bangsa yang besar itu adalah bangsa yang semakin jauh ia berjalan, semakin dekat ia mencapai cita – cita pendiri dari bangsa Indonesia. Karena kemerdekaan itu soal hati nurani, bukan cuma kebebasan! Maka dari itu Indonesia kini meredup. Bangsa Indonesia mengalami kemunduran jika korupsi dimasukkan kategori pidana umum. Dengan indeks prestasi yang masih berada di peringkat bawah, tidak wajar mengembalikan korupsi ke pidana umum. Maka dari itu Indonesia ini hendaklah Move on dari keterpurukan bangsa ini. Indonesia semakin hari semakin meredup, padahal semua warga negara Indonesia tidak mengharapkan Indonesia meredup. Terlalu banyak yang harus dibenahi di Negara Indonesia, namun sekali lagi pembenahan itu harus benar-benar terjadi. Kita sudah jauh berlayar. Ibarat sebuah kapal, kita sudah berada di tengah lautan. Angin dan ombak perubahan hebat menghantam, sementara daratan yang makmur belum tampak. Jangan sampai angin dan ombak menghempas dan menenggelamkan kita. Jika diam, kita akan tenggelam. Jadi tak ada kata lain selain berbenah dan terus berlayar. Meski demikian angin perubahan tak boleh dianggap musuh, karena bagaimanapun perubahan tak dapat dipungkiri. Namun, marilah kita menjadikan perubahan sebagai teman, sebagaimana para pendahulu kita, para pelaut tangguh yang bersahabat dengan ombak. Janganlah pernah menyebut kemerdekaan Bangsa Indonesia ini yang tidak identik dengan kemakmuran, kemerdekaan itu soal hati nurani, bukan cuma kebebasan! Maka dari itu Indonesia kini harus bebas dari keredupan.

Karya Informatic Writting Experience ITS 2014 (IWX 2014)
- Graha Permana, Universitas Diponegoro -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar